JAKARTA – Dalam upaya mendukung transformasi sektor ketenagalistrikan dan percepatan transisi energi nasional, Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE) Badan Pengembangan SDM ESDM menyelenggarakan Pelatihan Teknis Analisis Finansial dan Ekonomi Investasi Proyek Pembangkit dengan Sistem Smart Grid pada tanggal 9 – 11 Juni 2026

Pelatihan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom ini diikuti oleh 19 Aparatur Sipil Negara (ASN) dari berbagai unit kerja di lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), antara lain Direktorat Jenderal Penegakan Hukum, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Direktorat Jenderal EBTKE, serta Badan Pengembangan SDM ESDM.
Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan teknis ASN dalam melakukan analisis finansial dan ekonomi terhadap proyek-proyek ketenagalistrikan modern, khususnya yang mengadopsi teknologi Smart Grid sebagai bagian dari penguatan sistem energi masa depan.

Sebagai tahapan awal, seluruh peserta mengikuti pretes guna mengukur tingkat pemahaman dasar dan kesiapan kompetensi sebelum menerima materi pembelajaran. Hasil pengukuran awal ini menjadi dasar dalam mengoptimalkan proses pembelajaran selama pelatihan berlangsung.
Materi pertama disampaikan oleh pakar energi, Dr. Ir. Hanny J. Berchmans, M.T., M.S., dengan topik Pengantar Sistem Pembangkit dengan Smart Grid. Dalam pemaparannya, Dr. Hanny menjelaskan konsep dasar Smart Grid sebagai jaringan listrik modern yang mengintegrasikan teknologi informasi, komunikasi, dan otomasi untuk menciptakan sistem kelistrikan yang lebih andal, efisien, dan adaptif.
Ia menegaskan bahwa Smart Grid tidak sekadar merupakan sistem yang “pintar” (smart), tetapi juga “cerdas” (intelligent), karena mampu melakukan analisis data, memprediksi kondisi sistem, belajar dari pola operasi, serta mengambil keputusan secara otomatis dan real-time. Kemampuan tersebut menjadikan Smart Grid sebagai fondasi penting dalam pengembangan sistem ketenagalistrikan masa depan.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa Smart Grid memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan jaringan listrik konvensional. Selain memungkinkan aliran listrik dan informasi secara dua arah, teknologi ini juga mendukung peran konsumen sebagai prosumer, yakni pengguna yang sekaligus dapat memproduksi dan menyalurkan energi ke jaringan listrik.

Smart Grid juga dirancang untuk mengakomodasi pemanfaatan Distributed Energy Resources (DER), sehingga integrasi sumber energi terbarukan seperti PLTS atap dan pembangkit berbasis energi angin dapat dilakukan secara lebih optimal. Dari sisi operasional, teknologi ini dilengkapi berbagai fitur canggih seperti self-healing system, sensor berbasis Internet of Things (IoT), serta Advanced Metering Infrastructure (AMI) yang memungkinkan pemantauan dan pengendalian sistem secara lebih akurat.
Dalam sesi tersebut, Dr. Hanny juga memaparkan urgensi pengembangan Smart Grid di Indonesia yang sejalan dengan target Net Zero Emission (NZE) 2060, komitmen Paris Agreement, serta berbagai regulasi nasional, termasuk Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan dan Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022 tentang Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik.
Sebagai bentuk implementasi nyata, berbagai proyek percontohan Smart Grid yang telah dikembangkan PT PLN (Persero) turut diperkenalkan kepada peserta. Beberapa di antaranya meliputi pemasangan lebih dari satu juta perangkat AMI di wilayah Jakarta, pembangunan Digital Substation 150 kV di Sepatan II dan Teluk Naga II, hingga pengembangan Smart Micro Grid di wilayah kepulauan seperti Sumba dan Nusa Penida.
Berbagai studi menunjukkan bahwa penerapan teknologi Smart Grid yang dipadukan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Battery Energy Storage System (BESS) mampu meningkatkan efisiensi sistem sekaligus menurunkan biaya pokok penyediaan tenaga listrik dalam jangka panjang.
Meski membutuhkan investasi awal yang relatif besar, manfaat yang dihasilkan berupa peningkatan keandalan sistem, efisiensi operasional, serta fleksibilitas dalam mengintegrasikan energi terbarukan menjadikan Smart Grid sebagai salah satu pilar penting dalam transformasi sektor ketenagalistrikan nasional.
Melalui pelatihan ini, para ASN Kementerian ESDM diharapkan mampu memahami aspek teknis, finansial, dan ekonomi investasi Smart Grid secara lebih komprehensif, sehingga dapat mendukung penyusunan kebijakan dan pengambilan keputusan yang tepat dalam pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan yang modern, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Tags :