CEPU — Pusat
Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas) terus
memperluas jangkauan pengembangan kompetensi sumber daya manusia di sektor
energi hingga ke kawasan Indonesia Timur. Kali ini, lembaga pengembangan SDM di
bawah naungan Kementerian ESDM tersebut memfasilitasi 40 mahasiswa dari
Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Provinsi Maluku, melalui program
pelatihan dan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Program peningkatan kapasitas
ini resmi dimulai pada Senin, 27 Oktober 2026. Setelah tahapan pelatihan
selesai, para peserta dijadwalkan langsung mengikuti rangkaian ujian
sertifikasi kompetensi sesuai dengan bidang pelatihan K3 yang telah ditempuh.
Koordinator Pelaksanaan
Pengembangan Sumber Daya Manusia PPSDM Migas, Desy Kurnia Puspaningrum,
menegaskan bahwa PPSDM Migas memiliki komitmen kuat dalam mendukung pembangunan
SDM nasional yang merata. Ia menyatakan bahwa jangkauan program pelatihan kini
terus diperluas agar dapat dirasakan oleh seluruh institusi pendidikan di
berbagai daerah, termasuk Kota Ambon, Maluku.
"PPSDM Migas sangat concern
terhadap pengembangan SDM Indonesia dan berharap dapat menjangkau seluruh
wilayah di Indonesia, termasuk juga untuk Ambon dan kawasan timur
lainnya," ujarnya.
Lebih lanjut, ia juga
menekankan bahwa pihaknya membuka pintu seluas-luasnya bagi perguruan tinggi
lain di seluruh tanah air untuk berkolaborasi. Langkah sinergi ini dinilai
krusial guna mengakselerasi peningkatan kualitas sumber daya manusia sektor
energi, khususnya dalam membekali mahasiswa dengan sertifikasi kompetensi migas
yang diakui oleh KAN dan BNSP agar mampu bersaing di kancah global.
"Kami sangat terbuka
dengan kerja sama bersama universitas di seluruh Indonesia demi meningkatkan
kualitas SDM energi serta memberikan sertifikasi kompetensi migas bagi
mahasiswa. Harapannya, para lulusan perguruan tinggi memiliki nilai tambah dan
siap bersaing di kancah global," imbuhnya.
Melalui sinergi berkelanjutan
antara dunia pendidikan tinggi dan PPSDM Migas, lulusan perguruan tinggi di
Indonesia diharapkan tidak hanya menguasai teori akademis, tetapi juga
mengantongi bukti kompetensi resmi yang relevan dengan kebutuhan industri masa
kini.
Tags :