Dalam rangka mendukung capaian program Net Zero
Emission pada tahun 2060, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
(KESDM) melalui Badan Pengembangan SDM ESDM terus berinovasi untuk meningkatkan
kemampuan dan pengalaman SDM baik dalam lingkup internal ASN KESDM maupun
sektor. Salah satu upaya peningkatan tersebut adalah melalui beasiswa
pendidikan dan pelatihan jangka pendek ilmu panas bumi yang merupakan kerjasama
antara BPSDM ESDM dengan pemerintah Selandia Baru yang akan dilaksanakan pada
tanggal 11 Oktober hingga pertengahan November 2023.
Dalam acara pelepasan sekaligus briefing peserta pendidikan
dan pelatihan yang dilaksanakan hari ini, Senin (9/10) di gedung BPSDM ESDM,
Kepala BPSDM ESDM Prahoro Nurtjahyo menyampaikan bahwa Indonesia memiliki
cadangan panas bumi yang sangat besar serta teknologi yang memadai untuk
pemanfaatannya, namun satu hal yang tidak kalah penting adalah ketersediaan SDM
yang memadai untuk mengoperasikan teknologi dimaksud. “Mengingat energi dan
sumber daya mineral merupakan sektor yang teknis, kita perlu SDM yang memiliki
kemampuan teknis yang kuat juga, termasuk project management yang baik, dan
kedua hal ini tidak akan didapatkan dari sembarang tempat” jelas Prahoro.
Kepala BPSDM ESDM berharap bahwa peserta yang akan
diberangkatkan mampu menjadi ujung tombak bagi pengembangan panas bumi di
Indonesia pada masa yang akan datang, dimana ada sinergi yang baik antara
pemerintah dengan industri. “Tahun ini, BPSDM ESDM telah mengirimkan ASN
sejumlah 30 orang untuk mengikuti pendidikan di luar negeri dengan tujuan utama
untuk mensinergikan dengan kebutuhan industri. Setelah menjalankan program ini,
saya minta agar dapat dilakukan evaluasi dampak agar semua dapat terukur dan kita
bisa maju untuk kedepannya” lanjut Prahoro.
Peserta pendidikan dan pelatihan ini berjumlah 25
orang, yang terdiri atas 7 ASN dari Kementerian ESDM, 4 peserta dari PT PLN, 3
Peserta masing-masing PT Geo Dipa Energy, Star Energy Geothermal, dan Supreme
Energy, serta 1 peserta masing-masing dari PT Pertamina Geothermal Energy, PT
Sarana Multi Infrastruktur, PT EDC Indonesia, Sarulla Operations Ltd, dan Medco
Cahaya Geothermal.
Pada kesempatan yang sama, Kirk Yates yang merupakan Development Counsellor pada Kedutaan Besar Selandia Baru di Jakarta
menyampaikan bahwa ini merupakan kerjasama STTS Geothermal yang kelima kalinya
sejak tahun 2017 dengan jumlah total peserta program ini yang mencapai 96 orang,
terdiri dari stakeholder panas bumi, pemerintah, swasta, akademisi, serta
organisasi kemasyarakatan di Indonesia. “Selandia Baru telah aktif dalam
mendukung pengembangan panas bumi di Indonesia selama lebih dari 4 dekade
melalui pelatihan dan peningkatan kemampuan SDM, serta kerjasama komersil” ungkap
Kirk.
Agar peserta dapat memahami proses pemanfaatan panas
bumi secara menyeluruh, selain pembelajaran kelas/tatap muka program beasiswa
pendidikan dan pelatihan ini juga mencakup field trip, dan workshop
dengan materi yang mencakup pengenalan dasar panas bumi, pengembangan, hingga
manajemen serta pengembangan bisnis dengan menghadirkan langsung pemateri dari Geothermal
Institute of The University of Auckland.
Selanjutnya Kirk Yates menyampaikan bahwa program
ini tidak hanya fokus pada hal teknis, namun juga hubungan antara kedua negara.
“Setelah pulang ke Indonesia, para peserta akan menjadi bagian dari Manaaki
Alumni Family, dan saya harap bahwa hubungan yang telah dibentuk melalui
program ini dapat semakin ditingkatkan di masa yang akan datang”
Pihak Selandia Baru menyadari bahwa Indonesia akan memegang
peran sentral bagi subsektor panas bumi dunia dengan menjadi produsen listrik panas
bumi terbesar melalui pemasangan pembangkit dengan kapasitas 8.000 MW pada
tahun 2030, serta target penggunaan energi baru terbarukan sebesar 23% dalam
bauran energi nasional pada tahun 2025.
Hubungan Diplomatik antara Indonesia dan Selandia
Baru telah terjalin sejak tahun 1958, yang diawali dengan kerja sama di bidang
pendidikan. Kerja sama Indonesia dan Selandia Baru di bidang energi pertama
kali dimulai pada tahun 1970-an untuk program pembangunan pembangkit listrik
panas bumi dan semakin meningkat dengan ditandatanganinya “Arrangement Between
The Government of the Republic of Indonesia and the Government of New Zealand
on Geothermal Energy Cooperation” oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Republik Indonesia dan Menteri Perdagangan Selandia Baru pada 17 April 2012.
Kerja sama BPSDM ESDM dan Selandia Baru dimulai
dengen penandatanganan “Partnership Agreement on New Zealand Support for
Training in the Indonesia Geothermal Sector : Geothermal Well Control Training
Initiative (NZSTIGS-WELL)” antara BPSDM ESDM dan Ministry of Foreign Affairs
And Trade (MFAT), Selandia Baru pada 24 Maret 2017. Pada 23 Mei 2023, Aotearoa
New Zealand Government (AoNZ) membuka program Manaaki New Zealand Short Term
Training Scholarship (Manaaki NZSTTS) sebagai keberlangsungan dari Geothermal
Management Course. (itc/rwp)