Transisi energi merupakan proses panjang yang harus dilakukan oleh negara - negara di dunia untuk menekan emisi karbon yang dapat menyebabkan perubahan iklim sebagaimana pemerintah telah mencanangkan bahwa Indonesia akan mencapai Net Zero Emission (NZE) tahun 2060. Pada periode transisi energi, energi fosil seperti minyak dan gas bumi serta batubara masih memiliki peran penting untuk dikembangkan sebelum energi yang lebih bersih tersedia. Namun demikian, langkah dekarbonisasi bisnis serta membangun portofolio bisnis green energy perlu segera dimulai untuk mencapai target netral karbon pada 2060 mendatang.
Isu yang sedang hangat dibicarakan di kalangan
pemerhati industri migas ini menjadikan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia
Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas) mendatangkan Chief Executive Officer (CEO) PT
Kilang Pertamina Internasional, Taufik Aditiyawarman pada webinar dengan judul Refinery
Challenges: Strategi Bisnis Kilang Menghadapi Era NZE pada Senin (31/07/23).
Dalam paparannya, Taufik menjelaskan tentang
apa saja strategi kunci dalam mencapai NZE untuk industry Kilang.
“Ketika kita melakukan NZE agar sesuai target,
maka tantangannya adalah menyeimbangkan Trilemma Energy. The Energy Trilemma
termasuk di dalamnya adanya keseimbangan keamanan energi nasional, biaya dan
kebutuhan ekonomi, serta target NZE. Di Pertamina, sektor kilang dan upstream
adalah dua kontributor emisi terbesar. Sebagai rangking ke-dua terbaik dunia
untuk Best Integrated Oil and Gas Industry di ESG (Environmental, Social, and
Governance) Rating Ranking, Pertamina melakukan tiga hal untuk mengurangi emisi
karbon di industry kilang,” ungkapnya.
“Ada tiga cara yang kita gunakan yaitu dengan
teknologi, penggunaan bahan – bahan dari alam, dan yang ke-tiga adalah carbon
offsite trading. Dengan teknologi kita akan melakukan efisiensi energi dan
green business initiatives karena mudah dikontrol. Salah satu contoh efisiensi
energi adalah dengan minimize flare loss sehingga nantinya kami bisa berfokus
pada Near-zero flaring yang dapat digunakan kembali sebagai bahan bakar atau
feedstock,” terangnya lebih lanjut.
Webinar ini juga dihadiri oleh Kepala Pusat
Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi, Waskito Tunggul Nusanto.
Ia berpesan bahwa industry migas harus siap dengan era NZE.
“Industri migas harus segera beradaptasi
dengan energi rendah karbon. Kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang
berkecimpung di dunia migas serta adaptasi teknologi menjadi sebuah keharusan
yang harus ditempuh agar target yang ditetapkan pemerintah dapat terwujud,”
harapnya pada pembukaan seminar tersebut.
Hampir 400 peserta yang antusias menghadiri
seminar virtual yang diakhiri dengan puluhan pertanyaan kepada CEO Pertamina
Kilang Internasional dan berlangsung secara interaktif serta informatif bagi
seluruh peserta.