PPSDM MIGAS – Tantangan kerja di sektor lepas pantai (offshore) menuntut
kesiapsiagaan fisik dan mental yang tinggi. Menjawab kebutuhan tersebut, Pusat
Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas) menggelar
Pelatihan Basic Sea Survival bagi Universitas Pembangunan Nasional (UPN)
"Veteran" Yogyakarta pada 16 hingga 17 September 2026.
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini
dirancang untuk memberikan pemahaman serta prosedur keselamatan kerja di
wilayah perairan dan lepas pantai (offshore). Selama kegiatan, para
peserta dibekali materi yang mencakup Dasar-Dasar Keselamatan di Laut, Teknik
Bertahan Hidup di Laut, serta Pengenalan Peralatan Keselamatan Laut.
Tidak hanya menerima teori di dalam kelas,
para peserta juga menjalani praktik lapangan secara langsung di fasilitas kolam
pelatihan milik PPSDM Migas. Dalam sesi praktik tersebut, peserta berlatih
menggunakan Inflatable Life Raft (Rakit Penyelamat Tiup) serta
mengaplikasikan teknik formasi bertahan hidup kelompok (Huddle Position)
untuk menghemat energi dan mempertahankan suhu tubuh saat berada di air.
Salah satu daya tarik utama dalam pelatihan
ini adalah simulasi pendaratan darurat helikopter di atas air (ditching).
PPSDM Migas memfasilitasi praktik tersebut menggunakan simulator khusus berupa
modul kabin helikopter tiruan yang digantung pada sistem crane di tepi
kolam. Saat simulasi berlangsung, kabin diturunkan dan diputar ke dalam air
hingga posisi terbalik untuk melatih para peserta melepas sabuk pengaman,
membuka jendela darurat, dan keluar dari kabin yang tenggelam secara aman tanpa
panik.
Course Leader Pelatihan PPSDM Migas,
Restu Anditomo, menegaskan pentingnya pemahaman keselamatan laut bagi para
calon profesional di sektor industri migas.
"Pelatihan Basic Sea Survival ini
bertujuan untuk membangun kesiapsiagaan mental dan respons cepat para peserta
ketika menghadapi situasi darurat di laut. Dengan adanya fasilitas simulator
helikopter terbalik ini, mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga
merasakan simulasi riil cara menyelamatkan diri secara terukur dan
tenang," ujar Restu Anditomo.
Melalui pelatihan ini, diharapkan peserta
memiliki kesadaran tinggi terhadap budaya keselamatan kerja (safety culture)
sebelum terjun ke dunia industri migas yang penuh dengan dinamika dan risiko
tinggi.