Kementerian ESDM Perkuat SDM Energi Terbarukan melalui Peluncuran RESD Fase II

Kementerian ESDM Perkuat SDM Energi Terbarukan melalui Peluncuran RESD Fase II
22 Jan, 2026

Kementerian ESDM Perkuat SDM Energi Terbarukan melalui Peluncuran RESD Fase II

22 January 2026 | Seputar BPSDM ESDM

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM) sektor energi terbarukan melalui peluncuran Renewable Energy Skills Development (RESD) Fase II yang bertempat di Hotel Mandarin Oriental, Rabu (21/01). RESD II ini merupakan sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi nasional dan pencapaian target Net Zero Emission (NZE) 2060.

Program RESD Fase II merupakan kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Swiss yang berfokus pada penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi energi terbarukan agar selaras dengan kebutuhan industri. Program ini menjadi instrumen strategis Kementerian ESDM dalam menyiapkan tenaga kerja terampil, adaptif, dan siap menghadapi perkembangan teknologi energi bersih.

Kepala BPSDM ESDM, Prahoro Nurtjahyo, menegaskan bahwa transisi energi membutuhkan kesiapan SDM yang kuat dan berkelanjutan.

“Melalui RESD Fase 2, kita membangun ekosistem pengembangan sumber daya manusia dan kolaborasi yang menyelaraskan pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri. Kolaborasi ini diharapkan melahirkan talenta energi terbarukan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap memimpin perubahan,” jelasnya.

Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Olivier Zehnder, menyampaikan bahwa Swiss dan Indonesia memiliki keyakinan yang sama bahwa tenaga kerja yang terampil dan siap kerja merupakan fondasi penting transisi energi.

“Melalui dukungan SECO, RESD menjadi wujud investasi bersama dalam pengembangan SDM energi terbarukan, tidak hanya melalui transfer keahlian, tetapi juga penguatan kapasitas kelembagaan secara berkelanjutan. Kemitraan ini mendukung upaya Indonesia mencapai target Net-Zero Emission 2060 secara inklusif,” ujarnya.

Keberhasilan implementasi RESD Fase I yang berlangsung sejak Desember 2020 hingga Juli 2025 menjadi fondasi utama pelaksanaan fase lanjutan ini. Pada fase pertama, RESD telah mencetak 450 lulusan sarjana terapan teknik spesialisasi energi terbarukan, melatih 386 teknisi PLTS dan PLTMH di sembilan provinsi, meningkatkan kapasitas 214 dosen dan instruktur, membangun lebih dari 100 kolaborasi strategis dengan industri, serta mencatat tingkat serapan kerja lulusan politeknik sebesar 80 persen.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Khairul Munadi, menekankan pentingnya penguatan SDM dalam mendukung transisi energi nasional.

“RESD tidak hanya berfokus pada pengembangan kurikulum, tetapi juga membangun sistem pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan industri, termasuk integrasi pendidikan formal dan non-formal dalam pengembangan green skills. Melalui RESD, kami menegaskan komitmen untuk terus memperkuat peran pendidikan vokasi sebagai pilar utama pembangunan SDM transisi energi, mendorong kemitraan strategis antara kampus, industri, dan mitra internasional, serta menjadikan program ini sebagai referensi praktik baik nasional yang dapat direplikasi,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas, Kementerian Ketenagakerjaan, Darmawansyah, yang diwakili oleh Direktur Bina Produktivitas Kementerian Ketenagakerjaan, Muhammad Ali, menyampaikan bahwa RESD menjawab tantangan penurunan emisi karbon sekaligus peningkatan kompetensi tenaga kerja.

“Oleh karena itu, di luar jalur pendidikan formal, program ini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kompetensi melalui pelatihan vokasi. Kami melihat RESD sebagai respons nyata terhadap kebutuhan peningkatan keterampilan, sekaligus peluang bagi peserta untuk memasuki dunia kerja, khususnya di sektor energi terbarukan,” ungkapnya.

Pada RESD Fase II (2025–2028), program akan diperluas ke 19 politeknik dan lembaga pelatihan di bawah naungan Kementerian ESDM, Kemdiktisaintek, dan Kementerian Ketenagakerjaan yang tersebar di 15 provinsi. Fokus pengembangan meliputi ekspansi teknologi, termasuk penyimpanan energi baterai, penguatan kurikulum berbasis industri, penyediaan fasilitas laboratorium berstandar industri, serta pengarusutamaan kesetaraan gender.

Melalui pendekatan pembelajaran berbasis praktik dan keterlibatan industri, Kementerian ESDM berharap RESD Fase II dapat meningkatkan kesiapan kerja lulusan dan memperkuat kontribusi SDM nasional dalam mendukung keberhasilan transisi energi dan pembangunan berkelanjutan.