1DWE: Kepemimpinan Transformasional dalam Membangun Ketahanan Energi Nasional

1DWE: Kepemimpinan Transformasional dalam Membangun Ketahanan Energi Nasional
12 Mei, 2026

1DWE: Kepemimpinan Transformasional dalam Membangun Ketahanan Energi Nasional

12 May 2026 | Seputar BPSDM ESDM



Mahasiswa PEM Akamigas mendapatkan kesempatan emas untuk berdialog langsung dengan praktisi tingkat atas industri energi nasional dalam "One Day with Experts" (1DWE). Acara yang digelar pada Jumat, 8 Mei 2026, di Grha Oktana PEM Akamigas ini menghadirkan Andy Arvianto, Direktur Sumber Daya Manusia PT Pertamina (Persero), sebagai narasumber. 

Dibuka secara resmi oleh Direktur PEM Akamigas Erdila Indriani, kegiatan yang diikuti oleh seluruh program studi PEM Akamigas berlangsung semarak. Direktur PEM Akamigas menekankan dalam sambutannya akan pentingnya kehadiran praktisi industri di tengah lingkungan akademik. Ia berpesan agar seluruh mahasiswa memanfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya untuk menyerap ilmu dan memahami realitas industri secara langsung. Menurutnya, kesempatan berinteraksi dengan pimpinan strategis Pertamina adalah peluang langka yang harus menjadi pemantik semangat belajar mahasiswa dalam mempersiapkan karier ke depan.

Dipandu oleh dosen PEM Akamigas, Alfin Sahrin, Direktur Sumber Daya Manusia PT Pertamina (Persero), Andy Arvianto membuka paparannya dengan memberikan pernyataan yang menggugah: "Ketahanan energi tidak dimenangkan oleh barrel. Tapi dimenangkan oleh manusia". Pesan ini ditujukan bagi mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan yang akan mengeksekusi agenda Asta Cita menuju Swasembada Energi 2030. 




Andy memaparkan bahwa saat ini Indonesia menghadapi tantangan defisit energi yang nyata, di antaranya Impor crude oil yang mencapai sekitar 40%, kemudian impor LPG yang menyentuh angka 78% atau sekitar 7 juta ton per tahun dan risiko geopolitik global di Selat Hormuz yang dapat mengganggu stabilitas harga minyak dunia. Menurut Andy, “Dalam menghadapi tantangan tersebut, Pertamina menerapkan strategi "Dual Growth", yaitu memperkuat bisnis legacy (migas) sekaligus membangun bisnis rendah karbon seperti biofuel, geothermal, dan energi hijau lainnya.” 

Sejalan dengan transformasi bisnis tersebut, Andy memperkenalkan filosofi Human Capital 5.0 (Smart Humanity). 

Fokusnya adalah menempatkan manusia sebagai pusat, di mana teknologi melayani manusia, bukan sebaliknya. 

Di Pertamina, AI juga digunakan sebagai kolaborator (seperti Generative AI yang sedang dikembangkan) untuk memperkuat kapasitas kerja manusia dalam mengambil keputusan strategis, bukan untuk menggantikan posisi mereka. 

Andy juga mengungkapkan dalam paparannya bahwa adanya gap generasi yang nyata di industri energi global, di mana hanya 19% pekerja yang berusia 25–34 tahun. “Hal ini menjadi peluang besar bagi lulusan vokasi seperti mahasiswa PEM Akamigas yang berada di posisi strategis (sweet spot) untuk mengisi kebutuhan industri. Terdapat tiga kompetensi utama yang ditekankan Andy bagi para mahasiswa, yang pertama adalah memiliki growth mindset dan integritas. Kedua memiliki penguasaan inti migas yang dipadukan dengan literasi AI dan transisi energi dan ketiga adalah cara kerja yang harus kolaborasi adaptif dengan budaya safety-first. 




Menutup kegiatan, Andy Arvianto menegaskan kembali bahwa masa depan bukan milik organisasi dengan teknologi terbaik, melainkan mereka yang memiliki manusia paling siap untuk menggunakannya. "Bangunlah kedalaman teknis dan mentalitas kepemimpinan sejak dini di kampus ini," pungkasnya. (drm, https://akamigas.ac.id/)

Tags :